Jumat, 07 Agustus 2009

Dilema Seni Arsitektur Madura*

Perkembangan seni artistik dan dekorasi masyrakat madura dalam dasawarsa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Terutama dalam bidang pembangunan artistik dalam masalah pembangunan, seperti, pembangunan rumah, seni ukir, dan bentuk artistik lainnya yang melingkupi identity dimana menjadi simbol-simbol sosial masyarakat madura. Dalam perkembangannya, adanya silang budaya setempat dengan budaya lainya kerap kali mejadi ajang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Walaupun secara tidak langsung menandai adanya ikatan emosional yang sangat erat menyangkut persilangan buadaya. Pengaruh cina dalam gaya seni dekorasi Jawa dan Bali sudah diungkapkan oleh beberapa peneliti. Patung-patung Teratoka dengan gaya naruralistik dari era Majapahit menjadi sanga terkenal. Dekorasi relief batu nisan Islam yang ditemukan dibeberapa tempat pantai utara jawa dan Madura juga membuktikan tentan barang-barang yang berasal dari pertukangan Cina (H.J. de Graff, Cina Muslim:2004). Juga model masji jawa yang bermode klenteng. Ini erat hubungannya dengan model klenteng yang ada di Cina.

. Karena budaya itu sendiri bersifat artisti, pencerminan karakteristi dan pola pikir masayarakat. Adanya kesamaan unsur budaya ini mencerminkan pertalian kebudayaan, di mana kebudayaan setempat berkembang keluar dari daeraah lahirnya budaya tersebut (difusi).
Nusa jawa silang budaya antara masyakat madura itu sendiri, menandai bahwa madura adalah salah satu kepulauan yang bermukim di pesisir. Ini erat kaitannya dengan proses persilangan budaya pada masa dulu. Daerah pesisir merupakan daerah yang sangat setrategis untuk meyebarkan sebuah kebudayaan. Karena daerah pesisir merupakan jalur yang digunakan dalam jalur bangsa-bangsa pada masa kerajaan. Maka tidak heran apabila terjadi silang budaya antar bangsa-bangsa tersebut. Kemudian diperkuar dengan unsur dogmatis peyebaran agama Islam yang dilakukan oleh sejumlah Muballig yang mempunyai misi Islamisasi kebudayaan setempat. Dengan jalur perkawinan, politik, budaya, ekonomi, agama, semuanya mempererat pertalian emosi tersebut. Tetapi, yang patut digaris bawahi, ini tidak sekeda persilangan budaya.

Namun cukup delematis, mengingat kebudayaan itu seturut perkembangan jaman akan terkikis habis. Kebudayaan yang dulu menjadi simbol pandangan hidup dan ciri khas masayarakat setempat mengalami delematisasi. Dan ini tidak sepenuhnya disadari oleh masyrakat setempat. Karena perkembangan jaman menuntut suatu kemajuan peradaban. Salah satu kebudayaan yang mulai terkikis adalah seni artisti pembangunan rumah tanah lanjang. Suatu seni artistik yang menjadi simbolitas pembangunan rumah penduduk Madura. Pada awalnya, Tanah Lanjang merupakan jenis artisti rumah khas madura, yang di dalamnya terdapat semacam relief ukiran artistik. Mulai dari bagian atas rumah, bentuk ventilasi yang penuh dengan ukiran yang menyimpan filosofis tersendiri. Bahkan, mejadi simbol status kelas sosial (class social) masyarakt.

Identity artistik semacan ini merupakan kebudayaan yang terkikis ole perkembangan. Masyarakt madura modern sekarang ini lebih menyukai bentuk bangunan rumah yang bermodel eropa. Karena model ini lebih prakti, dan tidak membutuhkan lahan yang lebar. Walupun ada modivikasi dalam bentuk artistiknya. Ini malah menjadikan suatu kebudayaan hibrid, antara kebudayaan madura dengan eropa, dengan tidak saling menghilangkan unsur keduannya. Uniknya kebudayaan hibrid ini merupakan perkembanan yang esotik artistis ala madura. Ini yang menurut Ibnu Khaldun bahwa semakin maju sebuah peradaban, maka semakin maju pula seni artistik dan dekoratifnya.

Seturut perkemgbangan seni artistik ini, terkadang menjadikan mengahasilkan dekaden artistik. Dengan artian, kebanyakan hasil dari upaya pembangunan dari kebudayaan ini cenderung lebih bersifat modernisasi. Bukan kepada semangar seni artistik itu sendiri. Bentuk rumah yang dulu bersifat privat, dengan satu ruangan yang fungsinal, dan ruangan (amperan) yang dikhususkan untuk menerima para tamu, dengan musholla di salah satu pinggir rumah. Adanya musholla (langgar) di salah satu Tanian Lanjang masyarakat madura --merupkan ciri khas dari pembangunan masyarakat tempo dulu. Ini menandakan bahwa perkembangan keagamaan agama setempa, yang mayoritas beragama Islam sangat kuat, semua itu mulai terkikis bahkan tinggal menunggu waktu kalau tidak ada upaya bentuk keprihatinan para artisti madura. Namun kini, pembanguna semacam ini tidak di perhatikan. Selah satu faktok internal yang mendesak pola pembagunan yang lebih modern. Ini karena pesatnya perkembangan penduduk madura. Banyakknya anggota keluarnya tidak memunugkinkan memberlakuan jenis pembanguanan seperti dulu. Apakan delema seni aristik pembangunan di madura menjadikan kebudayaan masyrakat yang khas atau malah tergusur oleh kebudayaan asing.

Dengan adanya kesadaran ini, bagaimana upaya masayarakat upaya madura untuk melestarikan kebudayaan setempat, sebagai kekayaan keaneka ragaman kebudayaan Indonesia. Dengan upaya bagaimana kebudayaan itu tetap bertahan dan khas. Seni artistis dan dekoratif masyarakat madura merupakan kebudayaan yang diujung tanduk. Modernisasi menggilas kebudayaan untuk pemerataan dan kepentingan. Bukan lagi semangat artistis yang esotis, yang menampilkan keanekaragaman keindahan kebudayaan dan warna-warni perbedaan.

*Andriyanto

Mahasiswa STIK Annuqayah

Guluk-Guluk Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar